RSS
28 Mar 2013

Penanganan Kebakaran dan Alat Pemadamnya

Author: karnadi | Filed under: Uncategorized
Bekerja di sebuah laboratorium jelas tak bisa lepas dari kemungkinan kecelakaan kerja atau bahaya yang salah satunya adalah kebakaran. Aspek bahaya ini menjadikan pekerja laboratorium membuat dan menciptakan suatu system keselamatan kerja. Selain itu perlu difahami pula bagaimana proses terjadinya kebakaran, bahan-bahan kimia apa saja yang mudah terbakar serta bagaimana cara penanggulangannya secara benar.
Bahasan ini akan saya uraikan secara lengkap mulai dari definisi api dan kebakaran. Definisi api adalah suatu fenomena yang dapat diamati dengan adanya cahaya dan panas serta adanya proses perubahan zat menjadi zat baru melalui reaksi kimia oksidasi eksotermal. Api terbentuk karena adanya interaksi beberapa unsur/elemen yang pada kesetimbangan tertentu dapat menimbulkan api. Sedangkan kebakaran yaitu peristiwa bencana yang ditimbulkan oleh api, yang tidak dikehendaki oleh manusia dan bisa mengakibatkan kerugian nyawa dan harta.
Segitiga Api
Ditinjau dari jenis api, dapat dikategorikan menjadi jenis api jinak dan liar. Jenis api jinak artinya api yang masih dapat dikuasai oleh manusia, sedang jenis api liar tidak dapat dikuasai. Inilah yang dinamakan kebakaran.
Proses kebakaran atau terjadinya api sebenarnya bisa kita baca dari teori segitiga api yang meliputi elemen bahan, panas dan oksigen. Tanpa salah satu dari ketiga unsur tersebut, api tidak akan muncul. Oksigen sendiri harus membutuhkan diatas 10% kandungan oksigen di udara yang diperlukan untuk memungkinkan terjadinya proses pembakaran.
Sedang mengenai sumber panas bisa bisa muncul dari beberapa sebab antara lain :
    1. Sumber api terbuka yaitu penggunaan api yang langsung dalam beraktifitas seperti : masak, las, dll.
    2. Listrik Dinamis yaitu panas yang berlebihan dari sistem peralatan/rangkaian listrik seperti : setrika, atau karena adanya korsleting.
    3. Listrik Statis yaitu panas yang ditimbulkan akibat loncatan ion negatif dengan ion positif seperti : peti.
    4. Mekanis yaitu panas yang ditimbulkan akibat gesekan/benturan benda seperti : gerinda, memaku, dll.
Tetrahidral Api
  1. Kimia yaitu panas yang timbul akibat reaksi kimia seperti : karbit dengan air

Bisa terjadi juga kecenderungan terjadi reaksi kimia akibat adanya elemen ke empat. Inilah yang biasa dinamakan tetrahidral api seperti gambar disamping.

Ada beberapa klasifikasi kebakaran berdasarkan jenis bahan yang terbakar antara lain :

  • Kelas A : Benda padat seperti kertas, kayu, plastik, karet, kain, dsb.
  • Kelas B : Benda cair seperti mInyak tanah, bensin, solar, tinner, gas elpiji, dsb.
  • Kelas C : Kebakaran listrik, travo, kabel/konsleting arus listriknya.
  • Kelas D : Kebakaran khusus seperti Besi, aluminium, konstruksi baja.

Tipe Kebakaran :

Bagaimana caranya untuk memadamkan api?
Agar bisa memadamkan secara cepat, perlu difahami segitiga api seperti yang telah diuraikan diatas yaitu menghilangkan salah satu unsur dari segitiga api.
Selain itu harus ada sarana dan prasarana alat pemadam kebakaran. Alat yang sifatnya tradisional masih bisa dipakai seperti karung goni, pasir, termasuk keperluan komunikasi kentongan dll. Sedang untuk alat pemadam kebakaran yang sifatnya umum antara antara lain Hidrant, Mobil pemadam kebakaran, Alat pemadam api ringan (APAR), sprinkler, dll.
Disamping itu alat pemadam api lain yang mempunyai sifat sebagai racun api, antara lain karbon dioksida, Bahan Kimia kering multi guna dan bubuk kering. Dari beberapa macam alat pemadam api tersebut masing‐masing mempunyai kegunaan dan aturan tersendiri.
Inilah contoh gambar Alat Pemadam Api Ringan (APAR)

Media Alat Pemadam, Karakteristik dan Sifat Pemadamannya
1. Hydrospray
Alat pemadam dengan air ini umumnya digunakan untuk kebakaran kelas A. Alat ini biasanya dilengkapi dengan penera untuk mengetahui tekanan air. Penera berwarna hijau menunjukkan alat aman untuk digunakan, sedangkan warna merah menunjukkan tekanan sudah berkurang.

2. Drychemical Powder
Jenis bubuk kering digunakan untuk kelas A,B, C dan D, sedang sifat pemadaman jenis bubuk kering antara lain :

  • Menyerap panas dan mendinginkan obyek yang terbakar.
  • Menahan radiasi panas.
  • Bukan penghantar arus listrik.
  • Menutup dengan cara melekat pada obyek yang terbakar karena adanya reaksi kimia bahan tersebut saat terjadi kebakaran (reaksi panas api).
  • Menghambat terjadinya oksidasi pada obyek yang terbakar.
  • Tidak berbahaya.
  • Efek samping yang muncul adalah debu dan kotor.
  • Dapat berakibat korosi dan kerusakan pada mesin ataupun perangkat elektronik.
  • Sekali pakai pada tiap kejadian.

3. Gas Cair Hallon Free/AF 11/Halotron 1
Alat pemadam gas cair ini bisa digunakan untuk semua jenis klasifikasi kebakaran. Sifat alat pemadam ini antara lain :

  • Bukan penghantar listrik
  • Tidak merusak peralatan
  • Non Toxic (tidak beracun)
  • Bersih tidak meninggalkan bekas.
  • Memadamkan api dengan cara mengikat O2 disekitar area kebakaran
  • Penggunaan yang multi purpose (semua klas kebakaran)
  • Bisa digunakan berulang-ulang
  • Lebih tepat digunakan di dalam ruang

4. Carbon dioksida
Racun api CO2 ini cocok dan efektif digunakan untuk pemadaman api kelas B dan C. Sifat-sifatnya antara lain :

•         Bersih tidak meninggalkan bekas.
•         Non Toxide ( tidak beracun ).
•         Bukan penghantar listrik.
•         Tidak merusak peralatan ( elektronik / mesin )
•         Cara pemadaman dengan mendinginkan dan menyelimuti obyek yang terbakar.
•         Tepat untuk area generator dan instalasi listrik.
•         Tekanan kerja sangat besar.

5. Racun Api Busa
Racun api berupa busa hanya digunakan untuk jenis kebakaran kelas A dan B. Cara kerjanya menyelimuti dan membasahi obyek yang terbakar. Jika obyek yang terbakar benda cair, racun api busa ini bekerja menutup permukaan zat cair.
Sifat lainnya yaitu penghantar arus listrik sehingga tidak dapat digunakan pada ruang yang berisi peralatan komponen listrik.

6. Fire Sprinkler System

Alat ini biasanya terinstal didalam gedung dan bersifat mengandung Hg. Mekanisme kerja sprinkler yaitu secara otomatis akan mengeluarkan air bila kepala sprinkler terkena panas.
Prinsip dasar alat ini adalah mampu menyerap kalor yang dihasilkan dari bahan yang terbakar.

8. Hydrant
Digunakan untuk jenis api kelas A dan B.

Secara ringkas, penggunaan media racun api berdasarkan klasifikasi bahan terbakar jadi begini :

Agar bisa bekerja cepat dalam keadaan darurat perlu diperhitungkan persyaratan dan cara pemasangan APAR (Alat Pemadam Api Ringan) yang antara lain :

  • Tempat mudah dilihat dan dijangkau, tidak boleh digembok atau diikat mati.
  • Jarak jangkauan maksimum 15 m.
  • Tinggi pemasangan maksimum 125 cm.
  • Jenis media dan ukuran sesuai dengan klasifikasi kebakaran dan beban api.
  • Diperiksa secara berkala.
  • Bisa diisi ulang (Refill).
  • Kekuatan konstruksi terstandar.

Fasilitas yang harus dipunyai oleh laboratorium :

  • APAR
  • Tangga darurat
  • Ada sistem alarm seperti Heat detector, Smoke detector dan Flame detector (lidah api)
  • Hydrant (Box hydrant)
  • Baju tahan panas pelindung kerja lengkap tahan api
  • Pintu tahan Api
  • Jumping sheet
  • Penangkal petir

Perhatikan juga jika masuk ke laboratorium atau gedung manapun, cobalah lihat dan cari tanda arah evakuasi ataupun pintu darurat. Biasanya ditunjukkan dengan papan nama ‘pintu darurat’ atau “exit” seperi gambar ini :

Usaha Preventif  Tanggap Kebakaran

  • Penyuluhan dan pelatihan tentang pemadam kebakaran
  • Adanya SOP cara pengoperasian pada tabung pemadam
  • Pastikan listrik/api telah padam sebelum meniggalkan laboratorium
  • Usahakan bak kamar mandi selalu penuh

Bagaimana cara pelaksanaan pemadaman?

  • Selalu siap mental dan jangan panik
  • Perhatikan arah angin (dengan melihat lidah api)
  • Membelakangi arah angin menghindar dari sisi lain
  • Semprotkan/arahkan pada sumber api
  • Harus tahu jenis benda yang terbakar
  • Usahakan mengatur dan menahan nafas

Sedangkan prosedur emergensi evakuasi seperti berikut :

  • Bunyikan / tekan alarm terdekat
  • Keluar lewat pintu terdekat
  • Berkumpul ditempat yang berjarak minimal 30 meter dari sumber kebakaran
  • Beritahu petugas emergensi mengenai orang-orang yang ada didalam
  • Beritahu petugas emergensi mengenai alasan pengosongan ruangan
  • Jangan masuk kedalam gedung lagi sampai dijinkan oleh yang berwenang

Nah, itulah sedikit uraian penanganan kebakaran di dalam laboratorium. Satu hal paling utama yang perlu diperhatikan adalah ketelitian dan kewaspadaan kita sebagai pengguna laboratorium karena kecerobohan dan keteledoran tentu saja dapat mengundang segala resiko yang semua itu bisa saja terjadi. Demi keselamatan individual maupun bersama, sebelum bekerja didalam laboratorium kimia, terlebih dahulu memperhatikan tata tertib yang ada.

Sumber : http://lansida.blogspot.com/2010/11/penanganan-kebakaran-dan-alat.html

25 Mar 2013

DEFINISI KEBAKARAN

Author: karnadi | Filed under: Uncategorized

DEFINISI/PENGERTIAN
Kebakaran adalah suatu reaksi oksidasi eksotermis yang berlangsung dengan cepat dari suatu bahan bakar yang disertai dengan timbulnya api/penyalaan.

Tiga unsur penting dalam kebakaran antara lain:

  • Bahan bakar dalam jumlah yang cukup

Bahan bakar dengan bahan padat , cair atau uap /gas

  • Zat pengoksidasi/oksigen dalam jumlah yang cukup
  • Sumber nyala yang cukup untuk menyebabkan kebakaran

Hal-hal yang perlu diketahui  untuk mencegah kebakaran/peledakan:

  • Sifat-sifat dan bahan-bahan yang dapat terbakar dan meledak
  • Proses terjadinya kebakaran dan peledakan
  • Tata cara penanganan dalam upaya mengurangi kemungkinanterjadinya bahaya kebakaran dan peledakan
6 Mar 2013

Tips Cara Mencegah Kebakaran

Author: karnadi | Filed under: Uncategorized

Puskominfo – Api kecil jadi sahabat api besar jadi lawan. Kata-kata ini mungkin dulu sering kita dengar tetapi belum tentu benar karena api besar kita butuhkan untuk berbagai keperluan kita yang bermanfaat. Api kecil juga bisa membuat masalah yang tidak dikehendaki jika tidak sesuai dengan pemanfaatan yang kita inginkan.

Agar bangunan seperti rumah, kantor, sekolah, gudang dan lain sebagainya tidak terbakar dan menimbulkan kebakaran, maka diperlukan pencegahan kebakaran dengan tips dan trik mencegah terjadinya kebakaran sebagai berikut :

1. Waspada Rokok

Tidak membuang puntung rokok sembarangan. Pastikan rokok telah mati total sebelum dibuang ke tempat sampah. Rokok 99% memberikan masalah daripada manfaat, sehingga sebaiknya jangan merokok agar tidak rugi.

2. Waspada Pada Penerang Api

Ketika mati lampu dan menggunakan penerangan api seperti lilin dan lampu tempel semprong / petromak maka jangan pernah lalai untuk mengawasi lampu tersebut dan tidak menaruh di tempat sembarang yang bisa jatuh atau berpindah tempat sehingga bisa membakar benda mudah terbakar yang ada di sekitarnya. Awasi pula penggunaan anti nyamuk bakar.

3. Waspada Anak-Anak dan Lansia

Jauhkan benda-benda yang berapi atau yang dapat mengeluarkan api. Paling tidak ada orang dewasa yang mengawasi seperti bermain korek api, korek gas, kembang api, petasan, obat nyamuk bakar serta benda-benda yang mengeluarkan api dan panas seperti kompor gas, kompor minyak, setrikaan, dispenser air, pemasak nasi, dan lain-lain. Anak-anak sangat berpotensi bertindak ceroboh yang bersifat fatal.

4. Waspada & Rawat Perangkat Listrik dan Perangkat Api

Rawat dengan baik dan rutin kompor gas, setrikaan, mejik jar, solder, kabel-kabel listrik dan perangkat listrik dan api lainnya. Jaringan listrik di rumah, kantor, dll jika sudah usang sebaiknya dilakukan penggantian total dengan mengganti seluruh perangkat jaringan listrik diganti dengan yang berkualitas bagus dan baru demi keamanan dari korsleting listrik (hubungan arus pendek). Hindari mencuri listrik pln agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti misal kesetrum dan konslet listrik.

5. Siapkan Perangkat Pemadam Kebakaran Ringan

Jika bangunan cukup besar gunakan sistem pemadam detektor asap, pemancar air, perangkat penunjang hidup saat kebakaran, hidran, selang penyemprot air, tabung pemadam semprot, dan lain sebagainya. Jangan lupa berikan penyuluhan bagi penghuni bangunan dalam menghadapi bencana kebakaran. Untuk bangunan kecil minimal ada karung yang dapat dibasahi untuk meredam kebakaran ringan / kecil. Siapkan selang panjang atau ember untuk memudahkan menyiram kebakaran dengan air.

6. Melakukan Pembinaan dan Sosialisasi Kebakaran

Berikan penyuluhan kepada seluruh anggota keluarga, pegawai/karyawan kantor, siswa guru sekolah, buruh pabrik, dan sebagainya mengenai penanganan bencana kebakaran yang bisa saja terjadi kapan saja dan di mana saja agar ketika terjadi kebakaran mereka mengerti apa yang harus mereka lakukan. Beritahu nomor telepon polisi dan pemadam kebakaran lokal dan sentral.

7. Waspada Lingkungan Sekitar

Kebakaran juga bisa akibat dari bangunan sebelah yang terbakar sehingga bangunan kita ikut menjadi korban karena api bisa membesar dan merembet ke mana-mana. Tingkatkan kesadaran bencana kebakaran di lingkungan masyarakat sekitar untuk meminimalisir terjadinya kebakaran di lingkungan sekitar. Waspada juga dengan melakukan tindakan-tindakan yang dapat memperkecil resiko kebakaran merembet dari bangunan sekitar ke bangunan kita.

Sumber : http://www.metro.polri.go.id/trips-a-trik/950-tips-cara-mencegah-kebakaran

 

4 Mar 2013

Mencegah Kebakaran Akibat Korsleting Listrik

Author: karnadi | Filed under: Uncategorized

 

kebakaran 150x150 Mencegah Kebakaran Akibat Korsleting Listrik

Akhir – akhir ini kebakaran semakin meningkat di beberapa daerah. Dan kerugian yang ditanggung korban pun cukup tinggi baik dari segi moril atuapun materil. Sebagian besar kebakaran diakibatkan dari arus hubungan pendek listrik atau yang biasa disebut korsleting. Hal ini bukan lantas menyalahkan PLN sebagai pemasok arus listrik namun para pengguna listrik juga diharapkan untuk ikut menjaga aliran dan instalasi listrik mereka.

Berikut Tips untuk mencegah korsleting listing yang bisa berujung pada terjadinya kebakaran.

  1. Pastikan Anda menggunakan perlatan atau instalasi listrik yang sesaui dengan standar PLN atau yang sudah memiliki SNI, baik dari kabel, stop kontak, dan peralatan listrik lainnya. Umumnya masyarkat tergiur harga peralatan listrik yang murah tapi tidak memperhitungkan keselamatan mereka.
  2. Hindari penggunaan stop kontak yang menumpuk pada satu tempat sumber listrik, karena jika Anda menumpuk stop kontak pada satu titik sumber listrik maka kabel akan kelebihan muatan listrik dan dapet meleleh serta dapat menyebabkan korsleting.
  3. Periksalah instalasi listrik Anda setelah 10 tahun penggunaan, dan 5 tahun sekali untuk rumah yang lebih tua. Pemerikasaan ini dilakukan untuk mengetahui kelaikan instalasi listrik Anda, sehingga jika ada yang tidak laik pakai dapat segera diganti sebelum menimbulkan bencana.
  4. Jangan pernah melakukan pencurian listrik, dengan mengutak atik meteran atau menyambung listrik langsung ke jaringan utama arus listrik. Karena hal ini bisa menimbulkan bahaya dan kebakaran.

Dengan melakukan tips diatas maka resiko kebakaran dapat Anda kurangi.

 

Sumber : http://www.rickyeka.com/mencegah-kebakaran-akibat-korsleting-listrik.html

28 Feb 2013

Waspada Konsleting Listrik

Author: karnadi | Filed under: Uncategorized

Uji Petik Instalasi Listrik Rumah Sewa

Berdasarkan data dari musibah kebakaran yang kerap terjadi di Samarinda saat ini tidak jarang diketahui akibat adanya konsleting listrik, disamping sebab lain seperti ledakan kompor gas atau alat penerangan alternative. Untuk itu guna meminimalisir kejadian khususnya berkaitan dengan arus pendek listrik, Pemkot Samarinda Senin (11/2) kemarin menggelar rapat koordinasi dengan pihak PLN, AKLI dan beberapa pihak terkait lain.
“Karena bila melihat sebab kejadian yang ada masyarakat sekarang  perlu untuk diberi shock terapi tentang pentingnya kehati-hatian terhadap pemakaian alat-alat rumah tangga yang menggunakan tenaga listrik, tidak terkecuali dalam menggunakan instalasi yang sesuai standar,” ungkap Wakil Walikota Nusyirwan Ismail ketika memimpin pertemuan.
Shock terapi dimaksud Wawali dalam hal ini adalah dengan melakukan uji petik atau audit terhadap beberapa rumah sewa atau tempat kost. “Karena dari musibah kebakaran yang ada tidak sedikit pula lokasinya ada pada rumah sewa atau tempat kost,” katanya.
Untuk itu guna menumbuhkan kesadaran baik bagi penghuni maupun pemilik dalam mencegah musibah ini, dalam waktu dekat menurut Nusyirwan melalui tim gabungan Pemkot, PLN dan AKLI akan melakukan sidak.
Langkah ini dilakukan tambahnya bukan semata untuk mencari titik kesalahan tapi lebih kepada memberi pemahaman kepada masyarakat agar memperhatikan sambungan instalasi listrik pada rumah masing-masing.
Guna mendukung hal tersebut kepada para camat dan lurah yang juga hadir Nusyirwan meminta agar dapat segera menginventarisir jumlah rumah sewa atau tempat kost yang ada pada wilayah masing-masing, termasuk masjid atau bangunan tua lain.
Agar audit ini tidak hanya sampai pada tahap pemeriksaan Wawali  berharap AKLI maupun PLN bisa berperan melalui program CSR kepada pemerintah.
“Bentuknya melalui uji petik sekaligus bisa memberi pelayanan khusus kepada masyarakat yang ingin melakukan perbaikan instalasi listrik,” tandas Nusyirwan. Menanggapi hal ini Ketua AKLI DPD Kaltim Giman Santoso menyatakan kesanggupan pihaknya. Namun ia juga mengingatkan agar dalam penyambungan listrik ini masyarakat tidak mencari mudah dan murahnya saja, karena untuk pemasangan instalasi selain standar kualitas materi, juga diperlukan tenaga ahli yang bersertifikasi. (Hms3).

Sumber : http://www.bongkar.co.id/advertorial/pemkotsamarinda/2153-waspada-konsleting-listrik.html

Penyebab terjadinya kebakaran banyak disebabkan oleh korsleting listrik. Untuk itu ada beberapa hal yang harus di perhatikan untuk mencegah bahaya kebaran yang disebabkan korsleting listrik.

Di bawah ini kami informasikan tips mencegah bahaya kebakaran akibat korsleting listrik:

1. Percayakan pemasangan instalasi rumah/bangunan anda pada instalatir yang terdaftar sebagai anggota AKLI (Assosiasi Kontraktor Listrik Indonesia) dan terdaftar di PLN. Secara legal instalatir mempunyai tanggung jawab terhadap keamanan instalasi.

2. Jangan menumpuk steker atau colokan listrik terlalu banyak pada satu tempat karena sambungan seperti itu akan terus menerus menumpuk panas yang akhirnya dapat mengakibatkan korsleting listrik.

3. Jangan menggunakan material listrik sembarangan yang tidak standar walaupun harganya murah. Tetapi memiliki sertifikat Sistim Pengawasan Mutu (SPM) yang berlabel tulisan atau,

4. Jika sering putus jangan menyambungnya dengan serabut kawat yang bukan fungsinya karena setiap sekring telah diukur kemampuan menerima beban tertentu.

5. Lakukan pemeriksaan secara rutin terhadap kondisi isolasi pembungkus kabel, bila ada isolasi yang terkupas atau telah menipis agar segera dilakukan penggantian. Gantilah instalasi rumah/bangunan anda secara menyeluruh minimal lima tahun sekali. pekerjaan pemeriksaan dan penggantian sebaiknya dilakukan oleh instalatir anggota AKLI dan terdaftar di PLN.

6. Gunakan jenis dan ukuran kabel sesuai peruntukan dan kapasitas hantar arusnya.

7. Bila terjadi kebakaran akibat korsleting listrik akibat pengaman Mini Circuit breaker (MCB) tidak berfungsi dengan baik, matikan segera listrik dari kWh meter. Jangan menyiram sumber kebakaran dengan air bila masih ada arus listrik.

8. Anda juga perlu mengetahui bahwa hubungan arus pendek atau korsleting adalah kontak langsung antara kabel positif dan negatif yang biasanya dibarengi dengan percikan bunga api, dan bunga api inilah yang memicu kebakaran. PLN telah memasang MCB yang terpadu dengan kWh dan OA Kast yang berfungsi sebagai pembatas bila pemakaian beban melebihi kapasitas daya sekaligus sebagai pengaman bila terjadi hubungan arus pendek.

9. Hindari pemakaian listrik secara illegal karena disamping membahayakan keselamatan jiwa, tindakan itu juga tergolong tindak kejahatan yang dipidanakan.

Jadi sebelum hal-hal yang tak diinginkan terjadi seperti musibah kebakaran menimpa Anda, sebaiknya kita melakukan tindak pencegahan. Bukankah mencegah itu lebih baik daripada mengobati!

Sumber : http://www.agenalatpemadamapi.com/tips-news-alat-pemadam-api/9-tips-mencegah-bahaya-kebakaran-akibat-konsleting-listrik/

7 Feb 2013

KESELAMATAN DARI ARUS LISTRIK

Author: karnadi | Filed under: Uncategorized

EFEK SENGATAN LISTRIK

Akibat fatal dari sengatan listrik adalah kematian atau biasa disebut electrocution. Namun efek tidak fatal dari senggatan listrik (electric shock) juga cukup bervariasi.

Beberapa indikasi sengatan listrik

1. Efek pada jantung (Cardiac)

Arus AC 30-200mA dapat menyebabkan VF.  Sementara arus diatas 5A dapat menyebabkan asystole. Efek lainnya adalah rusaknya pembuluh jantung (myocardial).

2. Efek pada otot tulang Arus listrik lebih dari 15 -20 mA memunculkan gejala kontraksi yang hebat (tetanic contraction) yang menyebabkan tubuh sulit melepaskan diri darri sumber listrik mengakibatkan  sindrome pelepasan lengan dan  tulang belakang jika sengatan listrik mengenai lengan.

3. cedera otot

Thrombosis dan occlusion yang menghasilkan ischaemia dan necrosis

Yang terjadi pada lengan mengakibatkan kerusakan otot dan memerlukan amputasi.<O:P>

4. Cedera susunan syaraf (Neurological injuries)

Dapat terjadi kerusakan terpusat atau sebagian dan seketika maupun jangka panjang. Jika sengatan listrik melewati kedua bahu, maka kerusakaan sumsum tulang belakang dapat teerjadi. Sementara sengatan listrik pada bagian kepala menyebabkan gangguan pada sistem pernafasan, dan pengaruh jangka panjangnya seperti epilepsy, encephalopathy, dan Parkinsonism. Efek lain dari sengatan listrik juga mengakibatkan gagal ginjal, pecahnya gendang telinga (tegangan tinggi), katarak.

Keywords :

ECG, echo, CT, EEG, X-ray tulang belakang, Hb, elektrolit, CK and urine myoglobin, arteriograms, trauma, prophylactic treatment untuk mencegah rhabdomyolysis termasuk gagal ginjal, paraplegia, quadriplegia, subtle mental changes, Pregnancy, electrical pathway if often from hands to feet and therefore passes through the uterus, high prevalence of fetal death. Other fetal complications include oligohydramnios and intrauterine growth retardation, management includes cardiotocography, ultrasound and obstetric consultation


STATISTIK SENGATAN LISTRIK

Dari hasil penelitian tahun 2001 di amerika yang notabene memiliki standard keselamatan yang lebih tinggi dibandingkan kebanyakan negara berkembang ternyata memiliki cukup banyak kasus kematian yang disebabkan oleh sengatan listrik.

Dari kasus yang ada tersebut ternyata modus tertinggi disebabkan oleh penggunaan alat-alat rumah tangga yang sangat umum seperti AC, fan, bor listrik, kulkas, dst.

Dari  data yang diambil dari National Center for Health Statistics, Consumer Product Safety Commission / EHHA diperoleh fakta sebagai berikut :

Tabel populasi kematian karena arus listrik

Tahun Total Kasus Kematian Kasus kematian karena Produk Tingkat kematian per satu juta penduduk
Angka Persentase
1995 560 230 41 0.9
1994 560 230 41 0.9
1993 550 210 38 0.8
1992 530 200 38 0.8
1991 630 250 40 1
1990 670 270 40 1.1

Dalam penelitian yang dilakukan oleh National Center for Health Statistics, Consumer Product Safety Commission/EHHA ternyata installasi kabel menduduki urutan pertama, yaitu 23% total kasus kematian, sementara penggunaan peralatan rumah tangga menyumbang 17% kasus kematian. Berikut tabel lengkap hasil survey EHHA :

Tabel Produk penyebab kematian karena arus listrik

Tipe Produk

Estimate

Percent

Total jumlah kematian

230

100%

Instalasi Kabel

53

23%

Peralatan rumah tangga

40

17%

Kipas angin

10

Microwave

10

Stop kontak

9

Lainnya

5

Peralatan kesehatan

4

Radio, televisi, dan tape

3

Perlengkapan Besar

33

14%

AC

16

Pompa/generator

8

Pemanas Listrik/Water heater

6

Kulkas/freezer

3

Antenna

24

10%

Lampu

20

9%

Tangga

15

7%

Perkakas Listrik

13

6%

Gergaji Listrik

5

Bor Listrik

3

Lainnya

5

Alat Berkebun

14

6%

Dari tabel diatas, didapati bahwa angka perkapita kasus kematian karena sengatan listrik semakin berkurang, hal ini dapat dimengerti karena kemajuan teknologi yang semakin aman dan pemahaman masyarakat yang tentu saja semakin tinggi.

Selain itu ternyata kasus kecelakaan karena listrik dapat terjadi dimana saja, bahkan sebagian besar berada di rumah/menggunakan perabot rumah tangga. Peralatan-peralatan yang tampak sangat sederhana dan sangat familiar, ternyata juga memiliki andil dalam membunuh manusia melalui arus listrik, seperti kipas angin, AC, kulkas, dan seterusnya.

Dengan demikian pemasangan pengaman tambahan pada instalasi rumah, kantor, dan seterusnya adalah mutlak untuk dapat meredam angka kematian.

Angka-angka yang tercatat di atas adalah angka kematian, sementara jumlah kecelakaan yang tidak berakibat kematian mungkin jauh lebih besar. Dan efek dari kecelakaan listrik juga cukup berat seperti dalam artikel sebelumnya.


ARUS LISTRIK SERTA KEAMANAN DAN KESELAMATAN MANUSIA

Keamanan adalah kebutuhan dasar manusia prioritas kedua berdasarkan kebutuhan fisiologis dalam hirarki Maslow yang harus terpenuhi selama hidupnya, sebab dengan terpenuhinya rasa aman setiap individu dapat berkarya dengan optimal dalam hidupnya. Mencari lingkungan yang betul-betul aman memang sulit, maka konsekuensinya promosi keamanan berupa kesadaran dan penjagaan adalah hal yang penting.

Dalam rangka usaha menyadarkan pentingnya menjaga keamanan dan menyediakan keamanan bagi anggota keluarga, komunitas dan masyarakat, sangat relevan membahas keamanan dari arus listrik karena arus listrik termasuk penyebab kecelakaan yang cukup dominan yang menyebabkan kebakaran maupun kematian (electrocution) , terjadi baik pada perumahan maupun industri.

Beberapa penyebab yang berpotensi menyebabkan kecelakaan listrik pada lingkungan kerja maupun rumah tangga :

1. Buruknya kondisi installasi listrik. antara lain disebabkan oleh :

  • pemasangan kabel yang serampangan. Banyak sekali dijumpai kasus instalasi listrik yang serampangan dengan kurang mempertimbangkan kemampuan kabel untuk menyalurkan daya. Demikian juga dengan banyaknya sambungan listrik yang memperbesar impedansi kabel. Kedua hal tersebut dapat meningkatkan suhu kabel sehingga menyebabkan rusaknya isolasi kabel. Rusaknya isolasi kabel berpotensi terjadinya hubung singkat atau kontak dengan manusia.
  •  rusaknya isolasi kabel karena usia. Seiring dengan bertambahnya usia kabel, kualitas isolasi kabel juga semakin berkurang. Kondisi ini tidak hanya ditemui di rumah tangga, tetapi juga di industri. Tidak mengherankan jika kita sering menjumpai kabel yang sudah berumur lebih dari 10 tahun masih digunakan dalam instalasi rumah.

Rusaknya isolasi kabel berpotensi menimbulkan kebakaran, dan melalui media lain seperti air atau kayu yang lapuk/basah kontak tidak langsung dengan manusia (kesetrum/electric shock).

 

2. Kurangnya pemahaman terhadap lingkungan/object kerja.

Bekerja dengan alat-alat baru atau alat yang sudah tua, memerlukan perhatian khusus. analisa yang mendalam (job safety analisys/JSA) perlu dibuat untuk menggantisipasi hal-hal yang tidak lazim tetapi berpotensi terjadi,semisal asumsi rusaknya isolasi.

3. Pengggunaan pemanas listrik. Bahaya rusaknya isolasi pada alat pemanas listrik sangat besar, terutama jika isolasi berhubungan langsung dengan manusia atau media penghantar listrik yang berpotensi kontak dengan manusia.

Sebagai contoh water heater. Air mengalir melalui rangkaian pemanas listrik berisolasi. Jika terjadi kebocoran isolasi maka aliran listrik juga akan mengalir melalui air yang dilewatkan. Bisa dibayangkan bahaya yang mengancam jika air tersebut sedang digunakan untuk mandi ?

PERLINDUNGAN TENAGA KERJA

Pasal 3 Ayat 1 UU No. 1 Tahun 1970 tentang keselamatan kerja mengatur tentang syarat-syarat dan sanksi yang diberlakukan bagi perusahaan untuk mengimplementasikan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) menyatakan dengan jelas keharusan untuk memberikan jaminan keselamatan pekerja dalam bentuk pencegahan terkena aliran listrik yang berbahaya.

Tindakan pencegahan ini tentunya dapat mengurangi biaya jaminan sosial tenaga kerja (Jamsostek) yang nantinya harus diberikan kepada korban jika terjadi kecelakaan. Pencegahan kecelakaan oleh arus listrik, selain melalui pelatihan, training, informasi, instruksi, safety induction, manual, handbook, maupun buku saku, juga perlu diimplementasikan juga berbagai peralatan pencegahnya, sepe ti alat yang dapat mencegah terjadinya kecelakaan listrik, baik kesetrum atau kebakaran.

Sumber : http://amebali.multiply.com/journal/item/2/ARTIKEL-KESELAMATAN-DARI-ARUS-LISTRIK

4 Feb 2013

Ketenagakerjaan, Kesehatan, dan Keselamatan Kerja

Author: karnadi | Filed under: Uncategorized

Pertamina EP Cepu menganggap karyawan sebagai aset terpenting dan berharga bagi perusahaan dan sangat menghargai setiap kontribusi yang diberikan karyawan secara transparan dan berkeadilan. Oleh karena itu Pertamina EP Cepu mengupayakan untuk selalu meningkatkan kualitas kehidupan kerja. Konsep kualitas kehidupan kerja mengungkapkan pentingnya penghargaan terhadap manusia dalam lingkungan kerjanya. Dengan demikian peran penting dari kualitas kerja adalah mengubah iklim kerja agar organisasi secara teknis dan manusiawi membawa kepada kualitas kehidupan kerja yang lebih baik. Kebijakan pokok ketenagakerjaan dan hubungan dengan karyawan mengacu pada Peraturan Perusahaan Pertamina EP Cepu yang telah ditandatangani oleh Direktur Utama.
Pertamina EP Cepu menyadari adanya potensi risiko bahaya dalam pelaksanaan pekerjaan seperti kebakaran, ledakan, kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja dan pencemaran lingkungan. Hal ini mendasari kami untuk mengelola aspek Health, Safety & Environment (HSE) semaksimal mungkin untuk mewujudkan operasi yang aman, andal dan efisien guna mendukung visi dan misi Pertamina EP Cepu.
Pertamina EP Cepu berpedoman pada kebijakan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) yang dikeluarkan oleh PT Pertamina (Persero) dalam menjalankan operasional perusahaan. Dalam mengimplementasikan kebijakan tersebut Pertamina EP Cepu mengeluarkan Komitmen Manajemen tentang Kesehatan, Keselamatan Kerja dan Lindungan Lingkungan tanggal 10 Juni 2010 dengan tujuan untuk melindungi setiap orang, aset perusahaan, lingkungan dan komunitas sekitar dari potensial bahaya yang berhubungan dengan kegiatan Pertamina EP Cepu.

Komitmen tersebut berupa:

  1. Memberikan prioritas pertama untuk aspek HSE di lingkungan Wilayah Kerja, Kantor dan tempat-tempat / lokasi terkait lainnya.
  2. Mengidentifikasi potensi bahaya dan mengurangi risiko serendah mungkin untuk mencegah terjadinya insiden.
  3. Menggunakan teknologi terbaik untuk mengurangi dampak dari kegiatan operasi terhadap manusia, aset dan lingkungan di Wilayah Kerja tersebut.
  4. Menjadikan kinerja HSE dalam penilaian dan penghargaan terhadap semua pekerja Pertamina EP Cepu.
  5. Meningkatkan kesadaran dan kompetensi pekerja agar dapat melaksanakan pekerjaan dengan benar dan aman serta efisien dan efektif.
  6. Menciptakan dan memelihara harmonisasi hubungan dengan pemangku kepentingan (stakeholders) di sekitar kegiatan usaha untuk membangun kemitraan yang saling percaya dan menguntungkan.
    Untuk selalu meningkatkan pengelolaan HSE di lingkungan perusahaan, sepanjang tahun 2011 Pertamina EP Cepu telah mengadakan kegiatan-kegiatan yang mendukung peningkatan kompetensi karyawan di bidang HSE. (lihat Tabel Training Tahun 2011 halaman 139). Hasil pengelolaan HSE yang dilakukan secara terus menerus terlihat pada prestasi perusahaan yang mencapai zero accident pada tahun 2011.

Pertamina EP Cepu memberikan jaminan kesehatan kepada semua pegawai dan asuransi Jamsostek. Pertamina EP Cepu menjamin kesetaraan gender dan kesempatan kerja yang luas bagi semua karyawan tanpa memandang jenis kelamin, suku maupun agama dan kepercayaan pegawai.

 

Sumber : http://175.158.32.27:10081/pepc/index.php/hsse/kebijakan-hsse

9 Jan 2013

Tujuan keselamatan dan kesehatan kerja

Author: karnadi | Filed under: Uncategorized

Tujuan keselamatan dan
kesehatan kerja
Melindungi kesehatan tenaga kerja, meningkatkan efisiensi kerja, mencegah terjadinya kecelakaan kerjadan penyakit.Berbagai arah keselamatan dan kesehatan kerja
1. Mengantisipasi keberadaan faktor penyebab bahaya dan melakukan pencegahan sebelumnya.
2. Memahami jenis-jenis bahaya yang ada di tempat kerja
3. Mengevaluasi tingkat bahaya di tempat kerja
4. Mengendalikan terjadinya bahaya atau komplikasi. Mengenai peraturan keselamatan dan kesehatan tenaga kerja Yang terutama adalah UU Keselamatan dan Kesehatan Tenaga Kerja dan Detail Pelaksanaan UU Keselamatan dan Kesehatan Tenaga Kerja.

Keselamatan kerja
Tindakan keselamatan kerja bertujuan untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan, baik jasmani maupun rohani manusia, serta hasil kerja dan budaya tertuju pada kesejahteraan masyarakat pada umumnya. Keselamatan kerja manusia secara terperinci antara meliputi : pencegahan terjadinya kecelakaan, mencegah dan atau mengurangi terjadinya penyakit akibat pekerjaan, mencegah dan atau mengurangi cacat tetap, mencegah dan atau mengurangi kematian, dan mengamankan material, konstruksi, pemeliharaan, yang kesemuanya itu menuju pada peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan umat manusia.

1) Menunjang terlaksananya tugas-tugas pemerintah, khususnya di bidang peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan tenaga kerja di perusahaan, industri, perkebunan, pertanian yang meliputi di antaranya tentang penanganan keselamatan kerja.

2)Menuju tercapainya keragaman tindak di dalam menanggulangi masalah antara lain keselamatan kerja.

Standar Keselamatan Kerja
Pengamanan sebagai tindakan keselamatan kerja ada beberapa hal yang perlu diperhatikan digolongkan sebagai berikut:

a) Pelindung badan, meliputi pelindung mata, tangan, hidung, kaki, kepala, dan telinga.

b) Pelindung mesin, sebagai tindakan untuk melindungi mesin dari bahaya yang mungkin timbul dari luar atau dari dalam atau dari pekerja itu sendiri
c) Alat pengaman listrik, yang setiap saat dapat membahayakan.

d) Pengaman ruang, meliputi pemadam kebakaran, sistem alarm,
air hidrant, penerangan yang cukup, ventilasi udara yang baik,
dan sebagainya.

Pencegahan merupakan cara yang paling efektif
Dua hal terbesar yang menjadi penyebab kecelakaan kerja yaitu : perilaku yang
tidak aman dan kondisi lingkungan yang tidak aman, berdasarkan data dari
Biro Pelatihan Tenaga Kerja, penyebab kecelakaan yang pernah terjadi sampai
saat ini adalah diakibatkan oleh perilaku yang tidak aman sebagai berikut:
1. sembrono dan tidak hati-hati
2. tidak mematuhi peraturan
3. tidak mengikuti standar prosedur kerja.
4. tidak memakai alat pelindung diri
5. kondisi badan yang lemah
Persentase penyebab kecelakaan kerja yaitu 3% dikarenakan sebab yang
tidak bisa dihindarkan (seperti bencana alam), selain itu 24% dikarenakan
lingkungan atau peralatan yang tidak memenuhi syarat dan 73% dikarenakan
perilaku yang tidak aman. Cara efektif untuk mencegah terjadinya kecelakaan
kerja adalah dengan menghindari terjadinya lima perilaku tidak aman yang telah
disebutkan di atas.

Mencegah Terjadinya Kecelakaan
Tindakan pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya kecelakaan adalah hal yang lebih penting dibandingkan dengan mengatasi terjadinya kecelakaan. Kecelakaan dapat dicegah dengan menghindarkan sebab-sebab yang bisa mengakibatkan terjadinya kecelakaan. Tindakan pencegahan bisa dilakukan dengan cara penuh kehati-hatian dalam melakukan pekerjaan dan ditandai dengan rasa tanggung jawab. Mencegah kondisi kerja yang tidak aman, mengetahui apa yang harus dikerjakan dalam keadaan darurat, maka segera melaporkan segala kejadian, kejanggalan dan kerusakan peralatan sekecil apapun kepada atasannya. Kerusakan yang kecil atau ringan jika dibiarkan maka semakin lama akan semakin berkembang dan menjadi kesalahan yang serius jika hal tersebut tidak segera diperbaiki. Tindakan pencegahan terjadinya kecelakaan harus dilakukan dengan rasa bertanggung jawab sepenuhnya terhadap tindakan keselamatan kerja. Bertanggung jawab merupakan sikap yang perlu dijujung tinggi baik selama bekerja maupun saat beristirahat Hal ini akan sangat bermanfaat bagi keselamatan dalam bekerja. Peralatan perlindungan anggota badan dalam setiap bekerja harus selalu digunakan dengan menyesuaikan sifat pekerjaan yang dilakukan.beberapa alat pelindung keamanan anggota badan, terdiri dari pelindung mata, kepala, telinga, tangan, kaki dan hidung. Penggunaan alat pelindung ini disesuaikan dengan jenis pekerjaan yang dikerjakan. Sebagai contoh pelindung mata, pakailah kaca mata atau gogles untuk melindungi dari sinar yang kuat, loncatan bunga api, loncatan logam panas dan sebagainya.

Sebab-Sebab terjadinya Kecelakaan
Suatu kecelakaan sering terjadi yang diakibatkan oleh lebih dari satu sebab. Kecelakaan dapat dicegah dengan menghilangkan halhal yang menyebabkan kecelakan tersebut. Ada dua sebab utama terjadinya suatu kecelakaan. Pertama, tindakan yang tidak aman. Kedua, kondisi kerja yang tidak aman. Orang yang mendapat kecelakaan luka-luka sering kali disebabkan oleh orang lain atau karena tindakannya sendiri yang tidak menunjang keamanan. Berikut beberapa contoh tindakan yang tidak aman, antara lain:

a) Memakai peralatan tanpa menerima pelatihan yang tepat

b) Memakai alat atau peralatan dengan cara yang salah

c) Tanpa memakai perlengkapan alat pelindung, seperti kacamata pengaman, sarung tangan atau pelindung kepala jika pekerjaan tersebut memerlukannya

d) Bersendang gurau, tidak konsentrasi, bermain-main dengan teman sekerja atau alat perlengkapan lainnya.

e) Sikap tergesa-gesa dalam melakukan pekerjaan dan membawa barang berbahaya di tenpat kerja

f) Membuat gangguan atau mencegah orang lain dari pekerjaannya atau mengizinkan orang lain mengambil alih pekerjaannya, padahal orang tersebut belum mengetahui pekerjaan tersebut.

Tindakan Menghindari Cara Kerja yang Tidak Aman
Menghindarkan cara kerja yang tidak nyaman merupakan anggung jawab semua pekerja yang bekerja di ruang kerja. ebaliknya sikap yang tidak bertanggung jawab merupakan suatu indakan kebodohan. Sikap yang bodoh menyebabkan bahaya bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Oleh karena itu ikutilah instruksi supervisor (pengawas/pimpinan). Pakailah cara-cara kerja yang benar, tenang dan tidak ceroboh dalam segala hal jika akan memulai bekerja. Kerja sama dari semua orang yang terlibat dalam bekerja sangat diperlukan dalam mencegah kondisi yang tidak aman. Kondisi kerja yang aman tidak hanya memiliki alat-alat yang bagus dan mesin yang baru. Kerjasama dari setiap individu tempat kerja merupakan hal yang sangat penting. Menjadikan tempat kerja yang bersih, sehat, tertib, teratur dan rapi merupakan syarat yang sangat menentukan keberhasilan kerja secara maksimal.

Penyebab berbahaya yang sering ditemui
1. Bahaya jenis kimia: terhirup atau terjadinya kontak antara kulit dengan cairan metal, cairan non-metal, hidrokarbon dan abu, gas, uap steam, asap dan embun yang beracun.
2. Bahaya jenis fisika: lingkungan yang bertemperatur panas dingin, lingkungan yang beradiasi pengion dan non pengion, bising, vibrasi dan tekanan udara yang tidak normal.
3. Bahaya yang mengancam manusia dikarenakan jenis proyek: pencahayaan dan penerangan yang kurang, bahaya dari pengangkutan, dan bahaya yg ditimbulkan oleh peralatan.

Cara pengendalian ancaman bahaya kesehatan kerja
1. Pengendalian teknik: mengganti prosedur kerja, menutup mengisolasi bahan berbahaya, menggunakan otomatisasi pekerjaan, menggunakan cara kerja basah dan ventilasi pergantian udara.
2. Pengendalian administrasi: mengurangi waktu pajanan, menyusun peraturan keselamatan dan kesehatan, memakai alat pelindung, memasang tanda – tanda peringatan, membuat daftar data bahan-bahan yang aman, melakukan pelatihan sistem penangganan darurat.
3. Pemantauan kesehatan : melakukan pemeriksaan kesehatan.

 

Sumber : http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/03/tujuan-keselamatan-dan-kesehatan-kerja/

Maybe it’s only because of the holiday weekend (Happy Birthday Abe! You too, George!), but this front-page article from Saturday’s Wall Street Journal has caused curiously little comment. It reveals that the U.S. is developing plans to cut the Afghan Security Forces from 352,000 men today to just 230,000 in 2014 in order to save a few billion dollars in a federal budget of almost $4 trillion. The Afghan Security Forces budget, almost all of it paid for by the U.S., is currently more than $11 billion; the administration would like to reduce that figure to $4.1 billion. While the administration’s desire for cost savings is admirable (were that it extended to domestic programs!), the consequences of this decision, if it’s finalized, are likely to be “catastrophic,” as Afghanistan’s Defense Minister Gen. Abdul Rahim Wardak warns.

Keep in mind the Obama administration is also rapidly cutting the number of U.S. troops–32,000 will be withdrawn by September, faster than commanders had recommended. That will leave 68,000 U.S. troops barring further cuts–but more such cuts are likely. The administration appears determined to withdraw all or almost all of the troops by 2014. That places a great burden on the Afghan Security Forces which are still in the process of being stood up. The current figure, of roughly 352,000, is the minimum necessary to police a country of 30 million; Afghanistan would actually be more secure if it had a force the size of the one in Iraq, where the security forces are over 600,0000.

 

To then cut the already barely adequate number of troops and police will make it essentially impossible for the Afghan government to control its own territory barring some miraculous decision by the Taliban and Haqqani Network to discontinue their war. But why should they stop fighting when they know that in a few years most U.S. troops will be withdrawn and the Afghan Security Forces will downsize as well?

Moreover, the fighting quality and morale of the remaining Afghan forces, after what is essentially their abandonment by the West, is to be highly doubted. Add in the fact that under this plan the government of Afghanistan will have to lay off 130,000 trained security personnel. Where will they find employment in an economy that is already in rapid decline because of the loss of foreign aid? Many, it seems safe to surmise, may join the other side.

In short, Minister Wardak is not being hyperbolic in warning of catastrophe. Does anyone in Washington notice or care? The answer seems to be no. The political class, led by the president, is so bent on withdrawing from Afghanistan and reducing defense spending that no one seems to be particularly exercised by the fact that this could result in the collapse of all that U.S. troops have fought so hard to accomplish during the past decade, at such great cost to life and limb. I doubt that Lincoln and Washington, who persevered through far costlier and more politically divisive conflicts, would have approved.

sumber: http://www.commentarymagazine.com